Oleh Kevlan Madya Rifdo
“Inilah negara dunia ketiga, susah senang banyak susahnya”.
Potongan syair tersebut terdapat dalam sebuah lagu yang dilantunkan Marjinal, band kesukaan saya..hehehe.. Marjinal adalah band yang dalam banyak lagunya mengusung suara proletar yang selalu ditindas.
Banyak orang bilang, “Bangsa kita bangsa yang besar”. Idiom tersebut dapat diwujudkan menjadi kenyataan apabila seluruh elemen bangsa mampu mengelola segala aspek kehidupan secara baik. Di sisi lain, kebesaran bangsa Indonesia dengan 250 juta lebih rakyatnya dapat menjadi bumerang dan menimbulkan berbagai masalah kompleks ketika masing-masing individu sibuk dengan urusan sendiri dan menyepelekan masalah kebangsaan.
Baru ini setelah pemerintah menyelenggarakan UN SMA dengan segala pro-kontranya pada 22-24 April 2008, kita masyarakat Indonesia disuguhi hidangan berita penangkapan sekelompok guru yang tertangkap basah sedang mengganti jawaban yang sudah dihitamkan peserta ujian pada lembar jawaban ujian. Mereka adalah guru yang mengajar SMA di Deli Serdang.
Yang membuat kita tertegun heran adalah penangkapan itu dilakukan satuan elite DenSus 88. Bukankah satuan kepolisian itu dibentuk untuk memerangi masalah extraordinary seperti terorisme dengan segala aksinya ? Memang kawan-kawan guru kita di Deli Serdang sana terlihat identik dengan teroris yang diperangi DenSus 88 ? Kalau begitu, pertanyaan akhir adalah apa kriteria teroris yang mungkin terdapat dalam kitab suci DenSus 88 Antiteror ? Mmm.. sebegitu seramkah guru-guru kita sehingga layak disamakan dengan teroris ?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tepat ditujukan kepada kepolisian RI atau justru sangat tepat untuk ditujukan kepada pemerintah yang memegang kendali kepolisian RI.
Terlalu sempit apabila kita murka kepada satuan elite DenSus 88 berseragam lengkap yang telah menangkap guru di Deli Serdang. Mereka pasti hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh atasan. Yang membuat kita mengerutkan kening adalah siapakah dalang yang berinisiatif membuat guru-guru kita malu sekaligus kesal karena disamakan dengan teroris.
Apakah tega pejabat di atas sana menjadikan guru sebagai tumbal untuk menutupi muka pemerintah yang berlubang akibat kesalahan-kesalahan yang sudah mereka buat..?
Penangkapan guru-guru di Deli Serdang adalah sebuah skenario yang sengaja dibuat pemerintah untuk mengalihkan perhatian masyarakat luas dari kebijakan-kebijakan yang mereka buat. Pemerintah juga seolah-olah ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa yang salah adalah guru dan pemerintah coba menjadi pahlawan bagi masyarakat yang kebingungan dengan simbol satuan elite DenSus 88 Antiteror-nya.
Mungkin peran pahlawan yang dimainkan dapat sedikit melegakan hati masyarakat yang terlalu cinta dan percaya kepada pemerintah. Tetapi bagi sebagian masyarakat lain, sandiwara yang telah dipentaskan dapat semakin membuktikan kebenaran bahwa pemerintah sudah tidak dapat dipercaya lagi.
Tentu kawan-kawan guru di Deli Serdang memilki alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Kasih sayang guru kepada anakdidik menjadi sebuah alasan mengapa akhirnya mereka berani melakukan hal tersebut. Mereka tidak rela melihat anakdidik kecewa hanya karena tidak lulus UN. Dan perlu diketahui, merekapun tidak dibayar untuk melakukan hal tersebut. Mereka mungkin hanya menuruti kehendak sebuah hati nurani walaupun kesejahteraan hidup sulit mereka dapat.
Lain guru lain pula dengan buruh. Pada 1 Mei 2008, ribuan buruh se-Indonesia turun ke jalan. Di Jakarta, demonstrasi buruh diikuti berbagai elemen masyarakat, seperti kaum buruh dan tani, mahasiswa, LSM, dan juga masyarakat miskin.
Hari buruh Sedunia bagi Indonesia adalah hari seluruh masyarakat Indonesia yang menjadi korban kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak populer. Hal ini terbukti dengan partisipasi berbagai elemen masyarakat untuk menolak dan melawan penindasan.
Isu yang disuarakan masyarakat khususnya buruh kali ini adalah menolak kenaikan harga BBM dan bahan kebutuhan pokok serta menolak sistem kerja kontrak dan outsourcing. Dua isu tersebut merupakan yang utama dari isu lainnya.
Kelihatannya tuntutan tersebut belum dapat direalisasikan pemerintah (berharap lebih). Terbukti dari rencana pemerintah menaikkan harga BBM rata-rata sebesar 30 % pada Juni 2008 nanti dan tentu diiringi kenaikan harga-harga lain.
Buruh terpaksa lebih lama mendekap derita selama pemerintah masih pro pengusaha dan tidak menyejahterakan pekerja. Hal tersebut terlihat dapat dilihat dari sistem kerja kontrak yang entah sadar atau tidak disahkan pemerintah. Dalam sistem ini, buruh tidak mempunyai kepastian dalam penempatan kerja. Kerja kontrak sama saja dengan buruh bekerja sembari mencari kerja. Buruh harus rela hengkang dari perusahaan untuk mencari perusahaan atau bahkan pekerjaan lain. Sirkulasi seperti itu yang sangat diinginkan pengusaha sehingga pekerja terus-menerus menggantungkan nasib dan menghamba di kaki sang kapitalis.
Cerita guru dan buruh di atas adalah akibat kebijakan-kebijakan sempit pemerintah yang tidak pro rakyat. Seharusnya guru dan buruh sejahtera karena mereka adalah sokoguru. Tanpa mereka peradaban suat bangsa akan menjadi sia-sia atau bahkan cenderung anarki. Jikalau guru dan buruh sejahtera niscaya Indonesia akan menjadi bangsa yang benar-benar besar. Aamin…
( Sebuah persembahan untuk kawan-kawan guru dan buruh se-Indonesia dari yang mencintaimu )
Sabtu, 2008 Mei 17
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar