Sabtu, 2008 April 26

Chairil Anwar: Pintu-pintu Pengakuan

PULUHAN tahun yang lalu, ketika masih menjadi anak baru gede dalam pergaulan-hidup seniman, saya selalu tergoda menanyakan tentang si Binatang Jalang, kepada seniman yang berhubungan langsung dengan Chairil Anwar pada zamannya. Saya mendatangi pelukis Nashar di Balai Budaja, Jakarta. Nashar cukup lama tertegun sambil menghisap rokok berkali-kali, seperti memandang sebentang layar-hidup yang memutar pertemuannya dengan Chairil. Tapi sebelum memberikan jawaban, ia ngeles, balik bertanya; Bagaimana menurutmu? Kami biasanya gelagapan. Seorang seniman yang nimbrung dan cukup percaya-diri menilai bahwa pencapaian dalam sajak-sajak Chairil berkat derita dalam hidupnya, sama persis dengan pencapaian Nashar dalam melukis, karena, hidup berlumur penderitaan. Nashar dengan cukup sabar mendengar omongan sang seniman yang terus nyerocos dalam kalimat-kalimat panjang, bahkan membandingkan derita Nashar dengan derita Vincent Van Gogh, pelukis lunatik dari Belanda, yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Setelah sang seniman kehilangan kata-kata, Nashar hanya tersenyum, lalu berkata; Itu kan anggapanmu! katanya sambil terkekeh-kekeh dan kembali mereguk birnya. Seingatku pelukis Nashar cuma bilang bahwa besar derita hidup seseorang bukanlah jaminan untuk melahirkan karya-karya besar. Seorang Chairil Anwar berusaha mengasah diri dengan membaca karya-karyar sastra dunia. Dia sangat intens dalam mencipta. Intensitas yang tinggi itu, disamping intelektualitasnya, yang mengantarkannya pada pencapaian tertinggi dalam berkarya. Banyak orang salah sangka. Mengira Chairil hidup bagaikan gelandangan. Penampilan Chairil sangat jauh dari anggapan orang kebanyakan-- yang kelak menjadi stereotype seorang seniman-- rambut panjang, berpakaian lusuh dan urakan. Sebelum menderita sakit-sakitan, Chairil Anwar adalah sosok perlente. Pakaiannya diseterika necis, bahkan begitu necis, untuk sebuah zaman revolusi, ketika orang-orang cemas menyelamatkan diri mengungsi dengan pakaian rombeng. Boleh jadi, Chairil adalah seorang hedonis radikal. Ia selalu tampak di lantai dansa bersama noni-noni Belanda. Pergaulannya melintas batas. Dari orang gedongan sampai gembel dan pelacur pinggir rel Bongkaran, dekat stasiun Tanah Abang. Ia semakin memahami hidup. Ia sangat intens menangkap kenyataan pergaulan-hidup ke dalam sajak-sajaknya. Jadi, kaitan derita Chairil dan pencapaian dalam bersajak, adalah sebentuk mitos yang selalu ditiupkan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, demikian Nashar.


Chairil Anwar pun selalu dikait-kaitkan dengan pergaulannya dengan perempuan, yang dianggap memberinya ilham untuk menulis sajak. Vitalitas Chairil bisa saja ditelusuri dalam sajak maupun dalam teks sebuah poster, Bung! Ayo, Bung! karya Affandi. Suatu pagi, Affandi kehilangan akal untuk memberi jargon pada posternya. Affandi semalaman begadang, duduk di depan poster dengan model pelukis Dullah yang menjerit meronta melepaskan belenggu rantai di tangannya. Ia ketar-ketir. Karena Bung Karno memberi tenggat sebelum tengah hari, poster harus dicetak dan disebarkan ke front dan pelbagai pelosok daerah. Chairil Anwar yang baru saja begadang di bilangan Bongkaran, Tanah Abang, hendak menumpang tidur, bertemu Affandi. Affandi bertanya teks apa yang cocok untuk poster itu. Begini, kata Chairil, Bung! Ayo, Bung!
Kata-kata itu, konon, pun digunakan para pelacur di bilangan Bongkaran ketika mengajak pelanggan yang datang untuk menikmati senggama. Itulah Chairil. Pergaulannya melintas batas. Dari nona gedongan sampai pelacur Bongkaran. Walau Chairil sohor sebagai womanizer, tetapi ia tidak pernah melecehkan perempuan, apalagi tersangkut pelecehan seksual. Chairil memilih bergaul dengan pelacur di Bongkaran untuk melampiaskan petualangannya. Bahkan, bukan sekadar petualangan. Ia bergaul, begitu gaul. Bersahabat dengan mereka.

Dalam pergaulan-hidup yang satu ini, sahabat Chairil semenjak dari kota Medan, HB Jassin, mengaku terlambat, begitu terlambat, memahami sisi kehidupan yang lain ini. HB Jassin, seorang pendiam dan tertib. Berlawanan dengan karakter Chairil Anwar, yang slebor dan sontoloyo. Tetapi berpuluh tahun kemudian, HB Jassin merasa menyesal, karena mengenal dunia pelacur ketika telah berangkat dewasa di Jakarta, di bilangan Planet Senen. Sehingga Jassin begitu memahami liku dan lekuk kehidupan Planet Senen yang digambarkan pula oleh Ki Panji Kusmin dalam Langit Makin Mendung.

Setelah digerogoti TBC, Chairil Anwar mulai abai merawat diri, tapi makin gencar menulis sajak. Sajak-sajaknya, seperti Yang Terhempas Dan Yang Luput, semakin kelam tetapi dalem. Ia menyongsong ajal. Penyakit yang ditabung dalam badan, semakin menyiksa. Chairil acapkali terlihat menemui pamannya, Sutan Sjahrir yang Perdana Menteri itu. Kepada sang paman, Chairil meminta sejumlah uang. Kalau nggak dikasih, ketika sang paman meleng, Chairil mencuri arloji Sjahrir yang tergeletak di meja kerjanya. Sjahrir agaknya sangat prihatin melihat gaya hidup keponakannya, yang bohemian itu, walau ia pun pernah mereguk hidup sebagai bohemian dalam lingkar seniman dan sastrawan ketika belajar di Negeri Belanda.

Satu hal jurus Chairil dalam menjelajah literatur adalah dengan mencuri buku (di toko buku atau perpustakaan USIS) atau meminjam buku kepada HB Jassin dan Mochtar Lubis (tanpa mengembalikannya). Saya sering mendengar, apabila seseorang menjalankan amalan itu, pasti menyebutnya sebagai Jurus Chairil. Puluhan tahun yang lalu, sebelum ada jagat maya internet, segala literatur dari mancanegara begitu sulit, sangat sulit, bisa nyangkut di tangan kita. Sering terjadi kesenjangan komunikasi dan wacana, ketika seniman/sastrawan yang begitu obral obrol dan menguar-uar literatur Barat (dan kemudian Amerika Latin). Beberapa kata kunci yang nyangkut di benak langsung disusul dengan pelbagai Jurus Chairil. Beberapa perpustakaan pusat kebudayaan asing pun menjadi target. Beberapa antologi puisi, novel dan buku filsafat post-strukturalis langsung berpindah dari rak-rak di ruangan sepi itu, ditilep menjadi aset kita. Tak lama kemudian menyebar lewat fotokopian. Orang tentu bisa bilang, ini kerjaan tak terpuji, tapi begitulah kenyataannya. Buku-buku sastra mutakhir hanya beredar di kalangan tertentu, yang mempunyai bujet besar untuk membeli buku per bulan. Kebanyakan seniman di negeri Dunia Ketiga, mempunyai cara tersendiri... mencuri dari perpustakaan Dunia Pertama.
Lebih baik mencuri dari meminjam, kata TS Elliot yang sering diucapkan Chairil Anwar bisa kita rasakan hikmahnya dalam bentuk yang lain, sekarang ini. Tapi hati-hati, kalau ketahuan Anda mencuri buku (karena di setiap perpustakaan kini ada alarmnya) jangan kalian bawa-bawa nama penyair pelopor Angkatan 45 itu.
Hari ini, 28 April, kita masih tetap tergugah memperingati kematian Chairil Anwar, yang sekaligus menjadi Hari Sastra Nasional. Sajak-sajak Chairil Anwar --yang telah teruji oleh perjalanan waktu-- mampu membuka pintu-pintu kemanusiaan, yang memandang kehidupan dengan lebih manusiawi. Sosok Chairil Anwar, paling tidak, membuka pintu-pintu pengakuan beberapa persona pada zamannya, dan zaman kita, di Negeri Dunia Ketiga.
(Haska)

1 komentar:

Kangkung Gendjer mengatakan...

Band hebat! dari lapak MP3 bajakan di Pajak USU, di medan, saya dapatkan copy-an lagu kalian. Negara dunia ketiga lagu paling hebat untuk bulan ini yang saya dengar. KOIL dengan lagu Aku Lupa, Aku Luka langsung runtuh dari TOP 10 Chart HP Walkman saya. Gw sekarang aktif di BP Pemilu PDI Perjuangan, rasanya keren kalo kalian manggung pas Kampanye PDI P bulan 3 pemilu 2009 nanti di Sumut. Tapi apa iya, pimpinan partai mau ya? berapa sih tarif kalian kalo manggung? jangan mahal! kita partai Wong CILIK! Makmur Sardion Malau, from medan with Marjinal! oh ya, truemallau.multiply.com tempat kangkung gendjer saya...